Pedih …
Sangat pedih …
Kenangan indah itu masih terpahat di otak Kimy, tak mau hilang
termakan waktu. Di pandanginya salah satu sudut sekolah itu dengan hati yang
sakit. Tak bisahkah hal itu kembali? Mengapa semuanya harus berakhir sepedih
ini? Ia meratapi kenyataan pahit yang seakan-akan mencekiknya. Cucuran butiran
air mata membasahi pipinya. Bel pertanda istirahat telah usai berdering.
Cepat-cepat dihapusnya air mata yang sejak tadi menemani rasa sepi yang
dirasakannya, padahal saat itu suasana
sangat ricuh dengan gelak tawa anak-anak jurusan IPA . Kimy berjalan, hampir
setengah berlari ia menuruni tangga. Sebentar ia menoleh ke samping kiri,
mengintip dari sudut matanya yang bulat dan sembab oleh air mata. Dilihatnya
kelas yang dulu pernah jadi tempat bersatu dua hati insan manusia itu. Kelas
X-7 yang merupakan kelasnya sewaktu kelas X. Kelas penuh kenangan.
My.. gimana yang semalam?
Gimana apanya?
Itu yang itu?
Apaan sih?
Kimy mau jadi pacar Naufal?
Senyuman kecil Kimy tergores di bibirnya. Mendadak dadanya sesak
mengingat hal itu. Kimy mengalihkan pandangannya, mulai berjalan sambil membuyarkan kenangan manis itu dari
otaknya. Ia ingin segera masuk kelas, mencatat apa yang diterangkan guru, mengerjakan tugas atau hanya sekedar mendapat
energy dari tawa yang selalu di hadiahkan teman-temannya. Akankah semua tetap
seperti ini? Menunggu Tuhan benar-benar merasa kasihan lalu mengirim malaikat kebahagiaan untuknya?
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar