Jumat, 25 Januari 2013

KISAH part II

...
“Eh, Mi. ada yang nanyain kamu tadi.”
 “Iiiihhh kakak!!! Kaget tauk.”
“ Emangnya siapa yang pagi-pagi gini nanyain aku kak? Kayanya disekolah ini masih bisa dihitung pake jari deh yang udah datang.” Cerocos Kimy. – Kimy senang memanggil orang yang tinggi dengan sebutan ‘kakak’,maklum lah tubuhnya hanya 147 di usia 15 tahun ini –
“ Itu tuh. Anak kelas X-6 sebelah . Temen kakak waktu SMP dulu” jawab Miftah santai
“He? Siapa? Mana aku kenal sama anak sebelah kak. Keluar kelas aja jarang. Paling banter ya didepan kelas”.
“Ya ampuuun. Makanya main sekali-kali ke kelas lain kek. Jangan betelur aja dikelas!”
Kimy memanyunkan bibir bawahnya. Cemberut manja.
“Haha. Jelek tau dek. Oh iya, dia kirim salam juga. Kayanya dia suka deh sama kamu. Cieeee.” Miftah menggoda Kimy.
“Oh cowok toh. Kirain  cewek, hehe”
“Idih, ngapain cewek kirim salam sama cewek? Lesbi kaleee. Emang mau dapat kirim salamnya dari cewek apa?”
“Iya juga sih. Jadi serem. Tapi kalo kirim salam persahabatan kan gak apa sih kak. Jadi siapa yang kirim salam tadi kak?”. Kimy penasaran
“ Naufal. Si playboy kelas X.”
“Oh, jadi nama anak itu Naufal toh.”
Miftah dan Kimy pun larut dalam acara gossip pagi mereka itu. Meski mereka tidak menjalin persahabatan dengan cara yang sah, namun Miftah dekat dengan Kimy. Memang, Kimy termasuk gadis yang tidak dekat dengan satu atau dua orang saja. Karena ia memang tidak pernah menyembunyikan hal apapun dari teman-temannya. Meski masalah hati sekalipun.
Pelajaran pertama dimulai. Kimy tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran. Ia melamun memikirkan pacarnya. Rizky. Rizky adalah cinta pertamanya. Mereka telah menjalin hubungan special sejak ia duduk di bangku kelas VIII – tepatnya SMP kelas 2 semester dua - . Waktu itu Kimy gak percaya kalau Rizky yang terkenal pendiam itu ternyata naksir padanya. Kimy yang juga merasakan hal yang sama pun tak menolak ajakan Rizky untuk merajut hubungan yang naik level dari teman sekelas menjadi ‘pacaran’. Merekapun memulai lembaran baru tepat di ulangtahun ke-13 Kimy. 27 Oktober 2009 menjadi saksi bisu menyatunya dua hati remaja itu.
“My, kok melamun? Pasti mikirin Rizky ya?”
Apri menyadarkan Kimy dari lamunannya.
“Hmm.. iya nih Ri. Dia lagi apa ya disekolah barunya? Apa dia mikirin aku juga? Berat rasanya 3 tahun sekelas, trus harus pisah dari dia krna gak satu sekolah lagi. Dia nakal gak ya disana?” keluh Kimy
“Udahlah My, jangan dipikirin terus. Ntar jadi stress loh. Kamu kan pernah bilang, kalau Rizky itu S-E-T-I-A alias setia.”

Memang, Rizky beda dengan cowok umur 13 tahun lainnya. Disaat cowok seusianya main-main dalam sebuah hubungan, tapi tidak dengan Rizky. Sesetia-setianya seseorang tentu ada kebiasaan suka ngelirik kanan-kiri melihat ciptaan Tuhan lain yang lebih perfect. Tapi dia BEDA. So different. Kalian harus kenal dia deh. Keren kan?

“OKE, Ri. Tenang aja, aku gak akan mikirin dia dulu sampe pelajaran usai. Maaf ya Rizky-ku, aku harus pending kamu dari otak aku. Berkorban sedikit ya demi masa depanku. Hehe.”
“Siiippp.. gitu dong, My.”

Rabu, 02 Januari 2013

KISAH

Berdasarkan kisah nyata Mimi nih guys.. Cekidot aja deh



Pedih …
Sangat pedih …
Kenangan indah itu masih terpahat di otak Kimy, tak mau hilang termakan waktu. Di pandanginya salah satu sudut sekolah itu dengan hati yang sakit. Tak bisahkah hal itu kembali? Mengapa semuanya harus berakhir sepedih ini? Ia meratapi kenyataan pahit yang seakan-akan mencekiknya. Cucuran butiran air mata membasahi pipinya. Bel pertanda istirahat telah usai berdering. Cepat-cepat dihapusnya air mata yang sejak tadi menemani rasa sepi yang dirasakannya, padahal  saat itu suasana sangat ricuh dengan gelak tawa anak-anak jurusan IPA . Kimy berjalan, hampir setengah berlari ia menuruni tangga. Sebentar ia menoleh ke samping kiri, mengintip dari sudut matanya yang bulat dan sembab oleh air mata. Dilihatnya kelas yang dulu pernah jadi tempat bersatu dua hati insan manusia itu. Kelas X-7 yang merupakan kelasnya sewaktu kelas X. Kelas penuh kenangan.

My.. gimana yang semalam?
Gimana apanya?
Itu yang itu?
Apaan sih?
Kimy mau jadi pacar Naufal?

Senyuman kecil Kimy tergores di bibirnya. Mendadak dadanya sesak mengingat hal itu. Kimy mengalihkan pandangannya, mulai berjalan  sambil membuyarkan kenangan manis itu dari otaknya. Ia ingin segera masuk kelas, mencatat apa yang diterangkan guru,  mengerjakan tugas atau hanya sekedar mendapat energy dari tawa yang selalu di hadiahkan teman-temannya. Akankah semua tetap seperti ini? Menunggu Tuhan benar-benar merasa kasihan lalu  mengirim malaikat kebahagiaan untuknya?